Perihal Mencintai



Mencintai itu indah. Di saat kau merasa, bahwa dia-lah duniamu. Dia-lah sumber kebahagiaanmu. Dia-lah alasanmu untuk hidup.

Cinta itu magis. Perasaan itu membuatmu benar-benar hidup di dunia. Perasaan yang membuatmu lupa, bahkan tidak hanya kau yang ada di dunia ini. Perasaan yang melambangkan ketulusan sejati.

Bagaimana jika cinta bertepuk sebelah tangan?

Akankah masih terasa indah?

Bagi sebagian orang, perasaan mungkin harus terbalaskan. Menyukai, harus dibalas dengan disukai. Mencintai, harus dibalas dengan dicintai. Menyayangi, harus dibalas dengan disayangi.

Namun, dimana lagi letak ketulusan itu?

Mengapa semua terkesan egois?

Hanya karena realistis, lantas kau bisa menomorduakan ketulusan dan memprioritaskan egomu?

Cinta tak bisa benar-benar beriringan dengan harapan. Mengharap ia menoleh ke arahmu. Mengharap ia membalas cintamu. Mengharap dia adalah milikmu seutuhnya.

Tidak. Bukan dalam hal itu cinta berperan.

Intinya, mencintai saja dahulu. 
Mencintai semampumu.
Mencintai seikhlas yang kau bisa.
Perihal dicintai atau tidaknya, biarlah itu menjadi rahasia sang Ilahi.
Kalau perasaanmu terbalaskan, maka itu bonus.


p.s. : 
Untuk menghindari kesalahpahaman yang dapat terjadi, penulis ingin menekankan bahwa tulisan dalam blog ini hanyalah fiktif belaka. Mungkin penulis mendapat inspirasi dari peristiwa atau kisah-kisah tertentu yang dialami sendiri, orang terdekat, ataupun novel dan film. Tapi, penulis dapat menjamin bahwa kisah tersebut tidak 100% penulis ceritakan secara detail dan sama persis.

Komentar