Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2019

Perihal Mencintai

30 November 2019 Mencintai itu indah. Di saat kau merasa, bahwa dia-lah duniamu. Dia-lah sumber kebahagiaanmu. Dia-lah alasanmu untuk hidup. Cinta itu magis. Perasaan itu membuatmu benar-benar hidup di dunia. Perasaan yang membuatmu lupa, bahkan tidak hanya kau yang ada di dunia ini. Perasaan yang melambangkan ketulusan sejati. Bagaimana jika cinta bertepuk sebelah tangan? Akankah masih terasa indah? Bagi sebagian orang, perasaan mungkin harus terbalaskan. Menyukai, harus dibalas dengan disukai. Mencintai, harus dibalas dengan dicintai. Menyayangi, harus dibalas dengan disayangi. Namun, dimana lagi letak ketulusan itu? Mengapa semua terkesan egois? Hanya karena realistis, lantas kau bisa menomorduakan ketulusan dan memprioritaskan egomu? Cinta tak bisa benar-benar beriringan dengan harapan. Mengharap ia menoleh ke arahmu. Mengharap ia membalas cintamu. Mengharap dia adalah milikmu seutuhnya. Tidak. Bukan dalam hal itu cinta berperan. Intiny...

Terpasung Standar

05 Oktober 2019 Standarku, standarmu.  Standar. 1 kata. 6 huruf. Sebuah kata sederhana, namun mematikan. Sebuah kata yang dimiliki setiap orang dan dipersepsikan secara berbeda-beda.  Sebagai manusia, tentu aku memiliki standar dalam hal apapun. Yang paling sering, tentu dalam memilih pasangan. Terkesan selektif, namun begini-lah cara untuk meminimalisir masalah yang terjadi. Tapi, justru sekarang malah menambah masalah baru.  Standar bagaikan pasung, membuatku tak bisa bergerak dibawah kendalinya. Standar sukses membuatku berekspektasi tinggi. Ekspektasi yang turut mematikan. Realita tak segan untuk menampar ekspektasi, bahwa tak semua harus sejalan dengannya. Kejam, memang.  Terlalu hanyut dalam standar, hingga membuatku mengabaikan beberapa orang di dekat sini. Fokus utama, harus sesuai standar. Sampai akhirnya, aku bertemu dengannya. Seorang laki-laki yang memenuhi standar kesempurnaan ini.  Dia, sempurna. Dia, memiliki semua yang kuinginkan. Meme...

Teruntuk Sang Masa Kelam

07 April 2019 Ini adalah tentang kamu. Kata demi kata yang aku rajut di sini akan kudedikasikan untukmu. Kamu, seseorang yang pernah menjadi bagian besar dalam hidupku. Seseorang yang pernah aku perjuangkan mati-matian, sebelum akhirnya membuat jiwaku mati sungguhan. Seseorang yang tidak lagi kuketahui kabarnya. Entah di sudut bumi mana kini kau berpijak.  Bagaimana keadaanmu sekarang? Jujur, benakku diselimuti pertanyaan tentangmu. Kuingin kembali bertegur sapa, walau hanya dari dunia maya. Mengapa kini kita layaknya orang tak saling kenal? Mengapa kita harus menghapus bagian satu sama lain? Tak adakah cara yang lebih dewasa untuk kita tempuh? Saat aku menulis ini, apakah aku merindukanmu? Tidak. Aku hanya ingin membangun kembali hubungan pertemanan kita. Aku hanya ingin mengucap terima kasih dan juga permintaan maaf. Terima kasih karena pernah membuatku tersenyum hingga tertawa, seolah akulah wanita terbahagia di dunia. Terima kasih telah mengajarkanku untuk tidak berharap ...

Sekilas Tentang Nama

Molluscatharsis. Mollusca's catharsis. Mollusca adalah hewan triploblastik selomata yang bertubuh lunak. (wikipedia) Catharsis/katarsis adalah mengekspresikan emosi kita. Katarsis berarti menuangkan segala isi hati dengan bebas. Singkatnya, katarsis adalah salah satu usaha yang bisa kamu lakukan untuk mengungkapkan emosi yang sedang dirasakan. Selain itu, katarsis menjadi sarana pelepasan ketegangan atau kecemasan yang sedang kamu rasakan. (pijarpsikologi) Terlahir dengan nama Ismi Mawaddah Putri, yang kini lebih sering dipanggil dengan nama "mollusca". Seseorang dengan jiwa rebahan yang sangat kuat, serta menyenderkan badan ke orang dengan jarak terdekat darinya. Seolah tanpa tulang atay bertulang lunak, itulah asal-usul dari sebutan "mollusca" padaku.  Sebagai mahasiswa psikologi, tentu "catharsis" menjadi istilah yang terkenal dan kerap kali digunakan. Berbeda orang, berbeda pula cara katarsisnya, termasuk aku. Melalui blog ini, aku berhara...

Tulisan Perdana

Tak sesungguhnya tulisan pertama. Karena2 tulisan sebelumnya telah terunggah  di sini. Hanya saja, aku menghapusnya karena merasa kurang pantas untuk ditunjukkan kepada khalayak ramai. Pun bukan merupakan blog pertama. Karena aku pernah menulis di blog yang merupakan tugas kuliah. Entah apa yang menggerakkan jari jemariku hingga sampailah aku di tulisan pertama ini. Sedikit malu dan inferior, merasa bahwa tulisan ini masih sangat jauh dari kata sempurna dan terbilang awam. Namun tak ada salahnya mencoba, bukan?  Sejak kecil, menulis memang hobiku. Terbiasa menulis cerpen kanak-kanak yang lalu aku tunjukkan kepada mama papa yang langsung memujiku. Tidak ada kritik maupun saran, sehingga aku merasa tulisanku cukup bagus kala itu. Pengalaman yang menyenangkan, sangat.  Saat aku duduk di sekolah dasar, guruku pun sempat berkomentar mengenai tulisanku. Aku berbakat, katanya. Perasaan senang kian membuncah di relung hatiku. Membuat anganku merangkai 'aku ingin jadi penuli...