Teruntuk Sang Masa Kelam
07 April 2019
Ini adalah tentang kamu. Kata demi kata yang aku rajut di sini akan kudedikasikan untukmu. Kamu, seseorang yang pernah menjadi bagian besar dalam hidupku. Seseorang yang pernah aku perjuangkan mati-matian, sebelum akhirnya membuat jiwaku mati sungguhan. Seseorang yang tidak lagi kuketahui kabarnya. Entah di sudut bumi mana kini kau berpijak.
Bagaimana keadaanmu sekarang? Jujur, benakku diselimuti pertanyaan tentangmu. Kuingin kembali bertegur sapa, walau hanya dari dunia maya. Mengapa kini kita layaknya orang tak saling kenal? Mengapa kita harus menghapus bagian satu sama lain? Tak adakah cara yang lebih dewasa untuk kita tempuh?
Saat aku menulis ini, apakah aku merindukanmu? Tidak. Aku hanya ingin membangun kembali hubungan pertemanan kita. Aku hanya ingin mengucap terima kasih dan juga permintaan maaf. Terima kasih karena pernah membuatku tersenyum hingga tertawa, seolah akulah wanita terbahagia di dunia. Terima kasih telah mengajarkanku untuk tidak berharap dan membuat ekspektasi yang tinggi untuk apapun dan siapapun di dunia ini. Terima kasih telah mengakui kesalahanmu, membuatku sadar bahwa tidak ada manusia tanpa cela. Terima kasih telah menorehkan luka yang mendewasakanku, luka terdalam sepanjang hidup.
Kau adalah manusia terbaik yang pernah kutemui, sekaligus manusia terjahat yang pernah kukenal. Kau bisa membuatku menjadi wanita terbahagia, sekaligus menjadi wanita paling menyedihkan. Kaulah pelaku dalam setiap tawaku, sekaligus pelaku dalam setiap tetes air mataku. Kau pernah menjadi alasanku untuk hidup, sekaligus menjadi alasanku untuk hampir mengakhirinya. Kaulah jatuh hati terdalamku, sekaligus patah hati terberatku.
Kini, aku sadar. Manusia hanya bisa berencana, Tuhan-lah yang berkehendak. Tak ada yang bisa menjamin bahwa hubungan yang telah terjalin selama bertahun-tahun akan berakhir di pelaminan. Mencoba mencari kebahagiaanku, aku terus melangkah maju. Meski bahagiaku tak lagi dengamu. Tak ada gunanya meratapi kehadiran sosokmu yang semu. Karena bayangmu, bukanlah prioritasku lagi.
p.s. :
Untuk menghindari kesalahpahaman yang dapat terjadi, penulis ingin menekankan lagi bahwa tulisan dalam blog ini hanyalah fiktif belaka. Mungkin penulis mendapat inspirasi dari peristiwa atau kisah-kisah tertentu yang dialami sendiri, orang terdekat, ataupun novel dan film. Tapi, penulis dapat menjamin bahwa kisah tersebut tidak 100% penulis ceritakan secara detail dan sama persis.
Ini adalah tentang kamu. Kata demi kata yang aku rajut di sini akan kudedikasikan untukmu. Kamu, seseorang yang pernah menjadi bagian besar dalam hidupku. Seseorang yang pernah aku perjuangkan mati-matian, sebelum akhirnya membuat jiwaku mati sungguhan. Seseorang yang tidak lagi kuketahui kabarnya. Entah di sudut bumi mana kini kau berpijak.
Bagaimana keadaanmu sekarang? Jujur, benakku diselimuti pertanyaan tentangmu. Kuingin kembali bertegur sapa, walau hanya dari dunia maya. Mengapa kini kita layaknya orang tak saling kenal? Mengapa kita harus menghapus bagian satu sama lain? Tak adakah cara yang lebih dewasa untuk kita tempuh?
Saat aku menulis ini, apakah aku merindukanmu? Tidak. Aku hanya ingin membangun kembali hubungan pertemanan kita. Aku hanya ingin mengucap terima kasih dan juga permintaan maaf. Terima kasih karena pernah membuatku tersenyum hingga tertawa, seolah akulah wanita terbahagia di dunia. Terima kasih telah mengajarkanku untuk tidak berharap dan membuat ekspektasi yang tinggi untuk apapun dan siapapun di dunia ini. Terima kasih telah mengakui kesalahanmu, membuatku sadar bahwa tidak ada manusia tanpa cela. Terima kasih telah menorehkan luka yang mendewasakanku, luka terdalam sepanjang hidup.
Kau adalah manusia terbaik yang pernah kutemui, sekaligus manusia terjahat yang pernah kukenal. Kau bisa membuatku menjadi wanita terbahagia, sekaligus menjadi wanita paling menyedihkan. Kaulah pelaku dalam setiap tawaku, sekaligus pelaku dalam setiap tetes air mataku. Kau pernah menjadi alasanku untuk hidup, sekaligus menjadi alasanku untuk hampir mengakhirinya. Kaulah jatuh hati terdalamku, sekaligus patah hati terberatku.
Kini, aku sadar. Manusia hanya bisa berencana, Tuhan-lah yang berkehendak. Tak ada yang bisa menjamin bahwa hubungan yang telah terjalin selama bertahun-tahun akan berakhir di pelaminan. Mencoba mencari kebahagiaanku, aku terus melangkah maju. Meski bahagiaku tak lagi dengamu. Tak ada gunanya meratapi kehadiran sosokmu yang semu. Karena bayangmu, bukanlah prioritasku lagi.
p.s. :
Untuk menghindari kesalahpahaman yang dapat terjadi, penulis ingin menekankan lagi bahwa tulisan dalam blog ini hanyalah fiktif belaka. Mungkin penulis mendapat inspirasi dari peristiwa atau kisah-kisah tertentu yang dialami sendiri, orang terdekat, ataupun novel dan film. Tapi, penulis dapat menjamin bahwa kisah tersebut tidak 100% penulis ceritakan secara detail dan sama persis.
Komentar
Posting Komentar