Terpasung Standar
05 Oktober 2019
Standarku, standarmu.
Standar. 1 kata. 6 huruf. Sebuah kata sederhana, namun mematikan. Sebuah kata yang dimiliki setiap orang dan dipersepsikan secara berbeda-beda.
Sebagai manusia, tentu aku memiliki standar dalam hal apapun. Yang paling sering, tentu dalam memilih pasangan. Terkesan selektif, namun begini-lah cara untuk meminimalisir masalah yang terjadi. Tapi, justru sekarang malah menambah masalah baru.
Standar bagaikan pasung, membuatku tak bisa bergerak dibawah kendalinya. Standar sukses membuatku berekspektasi tinggi. Ekspektasi yang turut mematikan. Realita tak segan untuk menampar ekspektasi, bahwa tak semua harus sejalan dengannya. Kejam, memang.
Terlalu hanyut dalam standar, hingga membuatku mengabaikan beberapa orang di dekat sini. Fokus utama, harus sesuai standar. Sampai akhirnya, aku bertemu dengannya. Seorang laki-laki yang memenuhi standar kesempurnaan ini.
Dia, sempurna. Dia, memiliki semua yang kuinginkan. Memenuhi semua standar yang kubutuhkan. Ekspektasiku melayang jauh dan menembus cakrawala.
Realita murka. Tak segan, menamparku dengan telak. Menyadarkanku bahwa pria yang sesuai dengan standarku itu telah ada yang memiliki.
p.s. :
Untuk menghindari kesalahpahaman yang dapat terjadi, penulis ingin menekankan bahwa tulisan dalam blog ini hanyalah fiktif belaka. Mungkin penulis mendapat inspirasi dari peristiwa atau kisah-kisah tertentu yang dialami sendiri, orang terdekat, ataupun novel dan film. Tapi, penulis dapat menjamin bahwa kisah tersebut tidak 100% penulis ceritakan secara detail dan sama persis.
Standarku, standarmu.
Standar. 1 kata. 6 huruf. Sebuah kata sederhana, namun mematikan. Sebuah kata yang dimiliki setiap orang dan dipersepsikan secara berbeda-beda.
Sebagai manusia, tentu aku memiliki standar dalam hal apapun. Yang paling sering, tentu dalam memilih pasangan. Terkesan selektif, namun begini-lah cara untuk meminimalisir masalah yang terjadi. Tapi, justru sekarang malah menambah masalah baru.
Standar bagaikan pasung, membuatku tak bisa bergerak dibawah kendalinya. Standar sukses membuatku berekspektasi tinggi. Ekspektasi yang turut mematikan. Realita tak segan untuk menampar ekspektasi, bahwa tak semua harus sejalan dengannya. Kejam, memang.
Terlalu hanyut dalam standar, hingga membuatku mengabaikan beberapa orang di dekat sini. Fokus utama, harus sesuai standar. Sampai akhirnya, aku bertemu dengannya. Seorang laki-laki yang memenuhi standar kesempurnaan ini.
Dia, sempurna. Dia, memiliki semua yang kuinginkan. Memenuhi semua standar yang kubutuhkan. Ekspektasiku melayang jauh dan menembus cakrawala.
Realita murka. Tak segan, menamparku dengan telak. Menyadarkanku bahwa pria yang sesuai dengan standarku itu telah ada yang memiliki.
p.s. :
Untuk menghindari kesalahpahaman yang dapat terjadi, penulis ingin menekankan bahwa tulisan dalam blog ini hanyalah fiktif belaka. Mungkin penulis mendapat inspirasi dari peristiwa atau kisah-kisah tertentu yang dialami sendiri, orang terdekat, ataupun novel dan film. Tapi, penulis dapat menjamin bahwa kisah tersebut tidak 100% penulis ceritakan secara detail dan sama persis.
Komentar
Posting Komentar